Jumat, 16 Maret 2012

KB Pria Mewujudkan Kesetaraan Gender


Permasalahan kesetaraan gender bisa kita lihat pada penggunaan KB di Indonesia. Penggunaan KB yang seharusnya diikuti oleh pria dan wanita, masih terjadi kesenjangan. Pada umumnya kesenjangan tersebut bisa kita lihat dari faktor akses, partisipasi, manfaat dan pengambilan keputusan. Saat ini yang sangat terlihat yaitu : Akses pria terhadap informasi dan pelayanan KB masih terbatas, peserta KB laki – laki masih sangat sedikit sekali, masih sangat sedikit pria yang mengetahui manfaat KB bagi diri dan keluarganya, juga masih dominannya suami dalam pengambilan keputusan KB. Hal tersebut seperti menunjukkan bahwa pria seolah terdiskriminasi dalam pelayanan KB.
Pelaksanaan program KB dari jaman dahulu diarahkan untuk mengatasi tingginya angka kematian ibu, sehingga ibu menjadi sasaran pokok program KB. Dari hal tersebut, sampai sekarang ini menjadi timbul anggapan bahwa tanggung jawab ber-KB adalah urusan perempuan. Seringkali pria / suami merasa mampu untuk menghidupi anak banyak, sehingga pria hanya akan menyuruh istrinya yang menggunakan kontrasepsi bila tidak mampu untuk hamil lagi atau merawat bayi. Hal tersebut bisa dilihat dari catatan 2002 bahwa tingkat pemakaian kontrasepsi adalah 60,3 persen. Kontribusi pria terhadap angka itu hanya 1,3 persen yang terdiri dari kondom saja.
Dari segi budaya di Indonesia, masyarakat mengikuti budaya patriarkhi atau mengikuti garis keturunan ayah. Budaya patriarkhi yang melekat di masyarakat menjadikan informasi yang dibawa istri sangat rawan ditolak oleh suami. Padahal perempuan sendiri dianggap kurang mampu meneruskan informasi, Sehingga sampai saat ini penyampaian informasi tentang alat kontrasepsi dan keluarga berencana masih kurang efektif. Akhirnya tingkat pengetahuan pria tentang alat kontrasepsi pun masih kurang. Tingginya dominasi suami dalam pengambilan keputusan perencanaan jumlah dan jarak kelahiran anak juga ikut mempengaruhi rendahnya kesertaan pria dalam ber-KB.
Dari segi agama, dalam hal ini saya membahas dari agama islam, Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki keturunan yang sangat banyak. Karena dengan anak banyak, Tuhan pun menjamin kesejahteraan anak-anaknya. Sehingga dengan banyak anak, dikatakan banyak juga rizkinya. Namun tentunya bukan asal banyak, tetapi berkualitas sehingga perlu dididik dengan baik supaya dapat mengisi alam semesta ini dengan manusia yang shalih dan beriman. Karena suami merasa enggan menolak rizki, dan dari ajaran – ajaran agama tersebut, membuat banyak suami enggan ikut ber KB.

Untuk mendukung pencapaian peningkatan kesetaraan gender, meningkatkan kesehatan ibu, serta memerangi HIV/AIDS  serta penyakit menular seksual, dapat dilakukang dengan :
·      Melaksanakan program penyuluhan tentang KB kepada wanita dan pria, agar tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat meningkat. Isi yang disampaikan dalam program penyuluhan tersebut harus memperhatikan prioritas kebutuhan pria dan wanita.
·      Program KB dan kesehatan reproduksi dikembangkan secara responsive gender, yaitu program dan pelaksanaannya mampu memenuhi kebutuhan pria dan wanita secara seimbang.
·      Pelaksanaan program pelayanan KB yang memenuhi kebutuhan pria dan wanita secara seimbang. Pemberi pelayanan KB juga seharusnya peka gender, sehingga mampu melayani kebutuhan KB pria dan wanita, jadi pelayanan tidak hanya dari satu pihak. Pelayanan yang dilakukan harus dengan alat yang memenuhi kebutuhan pria dan wanita, dan lokasi pelayanan diusahakan relatif mudah dijangkau.
Selain dari beberapa program diatas, kesetaraan juga bisa diciptakan dari partisipasi wanita dan pria untuk :
- Melaksanakan peran dan tanggung jawab bersama dalam merencanakan jumlah dan jarak kelahiran.
- Bertanggung jawab secara bersama dalam penanganan kesehatan ibu dan anak.
- Meningkatkan pemahaman tentang KB dan kesehatan reproduksi, sehingga dapat mendorong terjadinya kesetaraan posisi antara pria dan wanita dalam pengambilan keputusan KB.


*Tugas Mata Kuliah Gender dan Kesehatan Reproduksi*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar