Tampilkan postingan dengan label Bidan Pendidik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bidan Pendidik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juni 2012

Integrasi Klinik -Part One-


Integrasi klinik adalah salah satu kegiatan yang harus di tempuh untuk menunaikan pendidikan DIV Bidan pendidik. Kegiatan ini adalah salah satu program yang dijadwalkan oleh institusi saya, yaitu Prodi DIV Bidan Pendidik Poltekkes Kementrian Kesehatan Semarang.

Tujuan dari kegiatan ini adalah diharapkan kami semua mahasiswa prodi DIV Bidan Pendidik mamapu mengintegrasikan pengetahuan dan skill dalam aplikasi kebidanan klinik di lahan atau laboratorium. Kebetulan kegiatan integrasi klinik ini dilaksanakan tanggal 26-27 Juni 2012 di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta.

*****1st Day*****
Perjalanan kita dimulai pada hari selasa pagi (26 Juni 2012), pukul 04.15 kita sudah mulai berangkat dari kampus tercinta untuk menuju Yogyakarta. Karena waktu itu nanggung untuk melaksanakan sholat subuh, akhirnya kita mampir di sebuah masjid di daerah Bawen. Setelah selesai sholat subuh, perjalanan dilanjutkan… lets go…!!
-foto bareng sohib "mbak Friska amelia"

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, pukul 08.15 kita sampai di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta.. Meskipun jadwal kegiatan dimulai pukul 08.00, tapi g papalah kita telat sedikit..hehe. Padahal ketika kita sampai disana, dosen – dosen kita sudah siap menunggu, karena mereka menggunakan transportasi mobil yang mungkin bisa lebih cepat.

Kita semua berkumpul diruangan, yaitu disalah satu ruang di gedung Diklit milik RSUP dr. Sardjito, yang disana juga biasanya sebagai ruang kuliah mahasiswa fakultas kedokteran. Kegiatanpun dimulai dengan ditampilkannya profil RSUP dr. Sardjito oleh Dr. B Hasta Yoga LB, SpKJ. Beliau memaparkan mulai dari sejarah berdirinya RSUP tersebut sampai poliklinik apa saja yang ada.

Setelah penampilan profil RSUP, dilanjutkan oleh pemberian materi oleh ibu Sri Nuryati, AMK mengenai pelayanan di Poliklinik Permata Hati, dimana poliklinik tersebut memberikan pelayanan kepad kasus infertilitas mulai dari cara sederhana sampai canggih (mulai analisa sperma sampai, hsg, inseminasi buatan, transfer embrio, sampai bayi tabung).
-Penampilan ibu Sri Nuryati, AMK saat memberikan materi-

Kemudian dilanjutkan pemberian materi oleh ibu Supiyah, SST dan ibu sinta tentang Manajemen pelayanan Maternal Perinatal. Kita diberikan penjelasan mengenai pencegahan kehamilan dan janin resiko tinggi, perawatan pasca natal dan genetic, baik medis maupun operatif.
-Penampilan ibu Supiyah, SSt saat memberikan materi-
-Penampilan ibu Sinta saat memberikan materi-

Pemateri berikutnya adalah dari Ibu Tri Wahyuni, SSiT tentang Manajemen peleyanan di Poliklinik Kebidanan dan penyakit kandungan. Materi yang disampaikan mengenai perawatan antenatal terpadu;gizi ibu hamil, deteksi dini kanker dan kelas prenatal.

Karena waktu sudah menunjukkan saatnya makan siang, akhirnya datanglah kegiatan ishoma dimana kita diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah sholat dzuhur dan makan siang. Yah lumayan buat istirahat karena kegiatan kita dari pagi Cuma duduk dan duduk…
-eating in action..:)-

Setelah kegiatan ishoma selesai, penyampaian materi dilanjutkan dengan tema Manajemen pelayanan di Poliklinik Kesehatan Anak dan Tumbang oleh ibu Sri Purwaningsih, S.Kep, Ns. 
-Penampilan ibu Sri Purwaningsih, SKep, Ns saat memberikan materi-

Setelelah itu pemateri terakhir ditutup oleh bapak Suprapto, AMK tentang Manajemen pelayanan di Poliklinik Eidelweis, dimana poli tersebut adalah tempat pelayanan untuk pasien HIV AIDS, yang meliputi pelayanan VCT, CST, dan PMTCT. Bapak suprapto merupakan Case manager dari Poliklinik edelweis. Untung saja beliau bisa menyesuaikan dengan keadaan kita yang sudah ulai bosan dan capek. Beliau selalu memberikan lemparan lelucon kepada kita, selain itu materi yang dibahas tentang HIV AIDS, dan seks beresiko, sehingga suasana yang awalnya ngantuk jadi pada ketawa ketiwi deh…
 -Penampilan Bapak Suprapto, AMK dalam memberikan materi-

Akhirnya kegiatan hari pertama di RSUP dr. Sardjito selesai..
Kegiatan yang cukup melelahkan namun membuat menambah pengetahuan kita.. TETEP SEMANGAT teman-teman!! :) yuk foto - foto dulu.. :)
-Risma n friends-

Next our destination is Agro Wisata Turi untuk menikmati hasil dari kebun salak.
Ayo….next Trip…
Kita tiba di Agro Wisata Turi sudah hamper pukul 17.00, langsung deh kita menuju kebun salak yang sudah meunggu kita. Dikebun tersebut ada lebih dari 17 jenis pohon salak yang hidup, dan semuanya dikembang biakkan dengan baik. Disana kita diberi kebebasan untuk mencicipi buah salak langsung memetik dari pohonnya. Sayangnya kita tidak bisa membawanya keluar dari kebun, jadi cukup menikmati sepuasnya saja..hehe

-action sebelum memasuki kebun salak-

Setelah puas pesta buah salak disana, dan adzan maghrib sudah berkumandang, akhirnya kita semua cabut untuk menuju penginapan di Villa Kana, salah satu Villa di daerah Kaliurang.. Disana kita bermalam untuk melepas capek dan mempersiapkan energi untuk hari kedua..

___bersambung___

Selasa, 10 April 2012

Gender Analysis Pathway (GAP) Pada Kebijakan Keluarga Berencana



A.    KEBIJAKAN PROGRAM
Program Kesehatan Keluarga Berencana
TUJUAN :
·      Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa;
·      Mengurangi angka kelahiranuntuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa;
·      Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.

B.     DATA PEMBUKA WAWASAN
·      Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 sebanyak 237,6 juta jiwa (sensus penduduk 2010, BPS)
·      Rata-rata laju pertumbuhan penduduk per tahun selama periode 2000—2010 mencapai angka 1,49%.
·      Jumlah pasangan usia subur di Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 45 juta pasangan.
·      AKI (SDKI,2007)  sebesar 228/100 ribu kelahiran hidup
·      Terdapat 23.500 klinik di seluruh Indonesia untuk melengkapi KB


C.    ISU GENDER
1.      Faktor kesenjangan
a.    Sosial Ekonomi
-  Rendahnya kualitas ekonomi masyarakat membuat wanita mengabaikan penggunaan alat kontrasepsi
-  Keterbatasan penerimaan keterjangkuan pelayanan alat kontrasepsi (alkon) pada pria
b.   Sosial Budaya
-     Budaya patriarkhi yang melekat di masyarakat menjadikan informasi yang dibawa istri sangat rawan ditolak oleh suami
-     Masyarakat dan keluarga menganggap partisipasi pria tidak penting
c.    Partisipasi
-     Keharusan untuk menggunakan kontrasepsi masih ditangan wanita
-     Perempuan kurang mampu meneruskan informasi, pendidikan rendah
-     Laki-laki kurang berwawasan tentang kesehatan keluarga berencana
-     Laki – laki menganggap bahwa tanggung jawab ber-KB adalah urusan perempuan
 d.   Agama
     Dalam beberapa agama mengajarkan bahwa manusia dilarang untuk membatasi kelahiran kecuali dalam keadaan darurat
e.    Kontrol
-     Pengambilan keputusan belum mempertimbangkan issue gender
-     Perempuan lemah dalam mengambil keputusan untuk kesehatannya
-     Hak perempuan untuk mengendalikan kesehatan
2.      Sebab kesenjangan internal
Sebagian pengelolan program keluarga berencana di pusat dan daerah belum memahami gender dan strategi program kebijakan keluarga berencana yang responsive gender
3.      Sebab kesenjangan eksternal
-     Banyak yang belum memahami pentingnya peran suami/laki-laki dalam permasalahan kehamilan, persalinan dan komplikasinya.
-     Laki-laki menganggap bahwa memakai alat kontrasepsi adalah urusan perempuan

D.    KEBIJAKAN DAN RENCANA KE DEPAN
a.    Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan KB lewat jalur pemerintah dan swasta
b.   Meningkatkan promosi dan pelayanan kontrasepsi mantap (kontap) pria atau kondom
c.    Penajaman sasaran pelayanan KB : pasangan usia subur (PUS), peserta aktif pria (PAR), penundaan kehamilan bagi pengantin baru
d.   Penundaan usia kawin muda

E.    PENGUKURAN HASIL
a.    Persentase pasangan usia subur (PUS) yang tidak terlayani KB (unmet need) menurun
dari 9,2 persen menjadi 6,5 persen
b.   Persentase peserta KB laki-laki meningkat dari 2 persen menjadi 8 persen
c.    Tingkat Kelahiran total (TFR) menurun dari 2,78 menjadi 2,4 per perempuan

Jumat, 23 Maret 2012

Kesehatan Reproduksi Remaja


DEFINISI
  • Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistim reproduksi, serta fungsi dan prosesnya.
  • Remaja atau adolescence, berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh ke arah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik saja, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis.
  • Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa peralihan. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa.

TAHAPAN REMAJA
Tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut :
1. Masa remaja awal/dini (early adolescence) : umur 11 – 13 tahun.
Dengan ciri khas : ingin bebas, lebih dekat dengan teman sebaya, mulai berfikir abstrak dan lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya.
2. Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : umur 14 – 16 tahun.
Dengan ciri khas : mencari identitas diri, timbul keinginan untuk berkencan, berkhayal tentang seksual, mempunyai rasa cinta yang mendalam.
3. Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 – 20 tahun.
Dengan ciri khas : mampu berfikir abstrak, lebih selektif dalam mencari teman sebaya, mempunyai citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta, pengungkapan kebebasan diri.
Tahapan ini mengikuti pola yang konsisten untuk masing-masing individu. Walaupun setiap tahap mempunyai ciri tersendiri tetapi tidak mempunyai batas yang jelas, karena proses tumbuh kembang berjalan secara berkesinambungan.
Terdapat ciri yang pasti dari pertumbuhan somatik pada remaja, yaitu peningkatan massa tulang, otot, massa lemak, kenaikan berat badan, perubahan biokimia, yang terjadi pada kedua jenis kelamin baik laki-laki ataupun perempuan walaupun polanya berbeda. Selain itu terdapat kekhususan (sex specific), seperti pertumbuhan payudara pada remaja perempuan dan rambut muka (kumis, jenggot) pada remaja laki-laki.

PERUBAHAN FISIK PADA MASA REMAJA
Perubahan fisik dalam masa remaja merupakan hal yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik yang sangat cepat untuk mencapai kematangan, termasuk organ-organ reproduksi sehingga mampu melaksanakan fungsi reproduksinya. Perubahan yang terjadi yaitu :
1. Munculnya tanda-tanda seks primer; terjdi haid yang pertama (menarche) pada remaja perempuan dan mimpi basah pada remaja laki-laki.
2. Munculnya tanda-tanda seks sekunder, yaitu :
a. Pada remaja laki-laki; tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, suara bertambah besar, dada lebih besar, badan berotot, tumbuh kumis diatas bibir, cambang dan rambut di sekitar kemaluan dan ketiak.
b. Pada remaja perempuan; pinggul melebar, pertumbuhan rahim dan vagina, tumbuh rambut di sekitar kemaluan dan ketiak, payudara membesar.

TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA
Setiap tahap perkembangan akan terdapat tantangan dan kesulitan-kesulitan yang membutuhkan suatu ketrampilan untuk mengatasinya. Pada masa remaja, mereka dihadapkan kepada dua tugas utama, yaitu : 
1. Mencapai ukuran kebebasan atau kemandirian dari orang tua.
Pada masa remaja sering terjadi adanya kesenjangan dan konflik antara remaja dengan orang tuanya. Pada saat ini ikatan emosional menjadi berkurang dan remaja sangat membutuhkan kebebasan emosional dari orang tua, misalnya dalam hal memilih teman ataupun melakukan aktifitas. Sifat remaja yang ingin memperoleh kebebasan emosional sementara orangtua yang masih ingin mengawasi dan melindungi anaknya dapat menimbulkan konflik diantara mereka.
Pada usia pertengahan, ikatan dengan orangtua semakin longgar dan mereka lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman sebayanya. Pada akhir masa remaja, mereka akan berusaha mengurangi kegelisahannya dan meningkatkan integritas pribadinya, identitas diri lebih kuat, mampu menunda pemuasan, kemampuan untuk menyatakan pendapat menjadi lebih baik, minat lebih stabil dan mampu membuat keputusan dan mengadakan kompromi. Akhir masa remaja adalah tahap terakhir perjuangan remaja dalam mencapai identitas diri. Bila tahap awal dan pertengahan dapat dilalui dengan baik, yaitu adanya keluarga dan kelompok sebaya yang suportif maka remaja akan mempunyai kesiapan untuk mampu mengatasi tugas dan tanggungjawab sebagai orang dewasa.
2. Membentuk identitas untuk tercapainya integrasi diri dan kematangan pribadi.
Proses pembentukan identitas diri merupakan proses yang panjang dan kompleks, yang membutuhkan kontinuitas dari masa lalu, sekarang dan yang akan datang dari kehidupan individu, dan hal ini akan membentuk kerangka berfikir untuk mengorganisasikan dan mengintegrasikan perilaku ke dalam berbagai bidang kehidupan.

KEBUTUHAN RIIL REMAJA
Kebutuhan riil remaja terkait hak mendapatkan informasi akurat tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi ini kadang juga dibedakan berdasarkan variasi kelompok. Misalnya, kebutuhan remaja desa berbeda dengan remaja kota. Kerentanan terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) antara ’remaja jalanan’ (anak jalanan) dan remaja sekolah juga berbeda. Remaja yang bekerja sebagai buruh pabrik juga mempunyai karakteristik dan masalahmasalah yang berbeda dengan remaja yang bekerja di sektor informal, dan sebagainya. Sehingga pemenuhan kebutuhan ini butuh disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya yang dihadapi masing-masing remaja. Namun demikian, secara umum kebutuhan riil menyangkut hak dasar remaja akan informasi terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi itu, antara lain sebagai berikut :
  1. Penyediaan layanan yang ramah dan mudah diakses bagi remaja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, status pernikahan, dan situasi keuangan mereka.
  2. Adanya dukungan terpenuhinya hak setiap remaja untuk menikmati seks dan ekspresi seksualitas mereka dalam cara-cara yang mereka pilih sendiri.
  3. Penyediaan informasi dan pemberian hak mendapatkan pendidikan mengenai reproduksi dan seksualitas. Informasi dan pendidikan yang diberikan ini harus mendorong terjadinya independensi dan keyakinan diri remaja, dan memberikan pengetahuan agar mereka bisa membuat keputusan sendiri terkait reproduksi dan seksual mereka.
  4. Adanya jaminan kerahasiaan dalam relasi sosial dan seluruh aspek dari seksualitas mereka.
  5. Penyediaan informasi yang bisa diakses sesuai dengan perkembangan remaja.
  6. Setiap remaja yang aktif secara seksual atau tidak; dan yang memiliki keragaman orientasi seksual bisa mendapatkan informasi agar mereka merasa nyaman dengan tubuh dan seksualitas mereka sendiri.
  7. Setiap remaja mendapatkan persiapan untuk memiliki ketrampilan melakukan negosiasi dalam relasi sosialnya, termasuk dalam masa pacaran dan dalam melakukan tindakan seks yang lebih aman (bagi yang seksual aktif).

HAK-HAK REMAJA TERKAIT DENGAN KESEHATAN REPRODUKSI
Selain kebutuhan-kebutuhan tersebut, remaja juga memiliki hak-hak mendasar terkait kesehatan reproduksinya. Hak-hak itu juga harus terpenuhi sebagai kebutuhan dasar mereka. Hak-hak itu adalah :
  1. Hak hidup. Ini adalah hak dasar setiap individu tidak terkecuali remaja, untuk terbebas dari resiko kematian karena kehamilan, khususnya bagi remaja perempuan.
  2. Hak atas pelayanan dan perlindungan kesehatan. Termasuk dalam hal ini adalah perlindungan privasi, martabat, kenyamanan, dan kesinambungan.
  3. Hak atas kerahasiaan pribadi. Artinya, pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja dan setiap individu harus menjaga kerahasiaan atas pilihan-pilihan mereka.
  4. Hak atas informasi dan pendidikan. Ini termasuk jaminan kesehatan dan kesejahteraan perorangan maupun keluarga dengan adanya informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi yang memadai tersebut.
  5. Hak atas kebebasan berpikir. Ini termasuk hak kebebasan berpendapat, terbebas dari penafsiran ajaran yang sempit, kepercayaan, tradisi, mitos-mitos, dan filosofi yang dapat membatasi kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi dan seksual.
  6. Hak berkumpul dan berpartisipasi dalam politik. Hal ini termasuk mendesak pemerintah dan parlemen agar menempatkan masalah kesehatan reproduksi menjadi prioritas kebijakan negara.
  7. Hak terbebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk. Hal ini terutama bagi anak-anak dan remaja untuk mendapatkan perlindungan dari eksploitasi, pelecehan, perkosaan, penyiksaan, dan kekerasan seksual.
  8. Hak mendapatkan manfaat dari ilmu pengetahuan terbaru. Yaitu hak mendapatkan pelayan kesehatan reproduksi yang terbaru, aman, dan dapat diterima.
  9. Hak memutuskan kapan punya anak, dan punya anak atau tidak.
  10. Hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi. Ini berarti setiap individu dan juga remaja berhak bebas dari segala bentuk diskriminasi termasuk kehidupan keluarga, reproduksi, dan seksual.
  11. Hak untuk memilih bentuk keluarga. Artinya, mereka berhak merencanakan, membangun, dan memilih bentuk keluarga (hak untuk menikah atau tidak menikah).
  12. Hak atas kebebasan dan keamanan. Remaja berhak mengatur kehidupan seksual dan reproduksinya, sehingga tidak seorang pun dapat memaksanya untuk hamil, aborsi, ber-KB dan sterilisasi.

MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
Kuatnya norma sosial yang menganggap seksualitas adalah tabu akan berdampak pada kuatnya penolakan terhadap usulan agar pendidikan seksualitas terintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan. Sekalipun sejak reformasi bergulir hal ini telah diupayakan oleh sejumlah pihak seperti organisasi-organisasi non pemerintah (NGO), dan juga pemerintah sendiri (khususnya Departemen Pendidikan Nasional), untuk memasukkan seksualitas dalam mata pelajaran ’Pendidikan Reproduksi Remaja’; namun hal ini belum sepenuhnya mampu mengatasi problem riil yang dihadapi remaja.
Faktanya, masalah terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi masih banyak dihadapi oleh remaja. Masalah-masalah tersebut antara lain :
1. Perkosaan.
Kejahatan perkosaan ini biasanya banyak sekali modusnya. Korbannya tidak hanya remaja perempuan, tetapi juga laki-laki (sodomi). Remaja perempuan rentan mengalami perkosaan oleh sang pacar, karena dibujuk dengan alasan untuk menunjukkan bukti cinta.
2. Free sex.
Seks bebas ini dilakukan dengan pasangan atau pacar yang berganti-ganti. Seks bebas pada remaja ini (di bawah usia 17 tahun) secara medis selain dapat memperbesar kemungkinan terkena infeksi menular seksual dan virus HIV (Human Immuno Deficiency Virus), juga dapat merangsang tumbuhnya sel kanker pada rahim remaja perempuan. Sebab, pada remaja perempuan usia 12-17 tahun mengalami perubahan aktif pada sel dalam mulut rahimnya. Selain itu, seks bebas biasanya juga dibarengi dengan penggunaan obat-obatan terlarang di kalangan remaja. Sehingga hal ini akan semakin memperparah persoalan yang dihadapi remaja terkait kesehatan reproduksi ini.
3. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). 
Hubungan seks pranikah di kalangan remaja didasari pula oleh mitos-mitos seputar masalah seksualitas. Misalnya saja, mitos berhubungan seksual dengan pacar merupakan bukti cinta. Atau, mitos bahwa berhubungan seksual hanya sekali tidak akan menyebabkan kehamilan. Padahal hubungan seks sekalipun hanya sekali juga dapat menyebabkan kehamilan selama si remaja perempuan dalam masa subur.
4. Aborsi
Aborsi merupakan keluarnya embrio atau janin dalam kandungan sebelum waktunya. Aborsi pada remaja terkait KTD biasanya tergolong dalam kategori aborsi provokatus, atau pengguguran kandungan yang sengaja dilakukan. Namun begitu, ada juga yang keguguran terjadi secara alamiah atau aborsi spontan. Hal ini terjadi karena berbagai hal antara lain karena kondisi si remaja perempuan yang mengalami KTD umumnya tertekan secara psikologis, karena secara psikososial ia belum siap menjalani kehamilan. Kondisi psikologis yang tidak sehat ini akan berdampak pula pada kesehatan fisik yang tidak menunjang untuk melangsungkan kehamilan.
5. Perkawinan dan kehamilan dini. 
Nikah dini ini, khususnya terjadi di pedesaan. Di beberapa daerah, dominasi orang tua biasanya masih kuat dalam menentukan perkawinan anak dalam hal ini remaja perempuan. Alasan terjadinya pernikahan dini adalah pergaulan bebas seperti hamil di luar pernikahan dan alasan ekonomi. Remaja yang menikah dini, baik secara fisik maupun biologis belum cukup matang untuk memiliki anak sehingga rentan menyebabkan kematian anak dan ibu pada saat melahirkan. Perempuan dengan usia kurang dari 20 tahun yang menjalani kehamilan sering mengalami kekurangan gizi dan anemia. Gejala ini berkaitan dengan distribusi makanan yang tidak merata, antara janin dan ibu yang masih dalam tahap proses pertumbuhan.
6. IMS (Infeksi Menular Seksual) atau PMS (Penyakit Menular Seksual), dan HIV/AIDS.
IMS ini sering disebut juga penyakit kelamin atau penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Sebab IMS dan HIV sebagian besar menular melalui hubungan seksual baik melalui vagina, mulut, maupun dubur. Untuk HIV sendiri bisa menular dengan transfusi darah dan dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Dampak yang ditimbulkannya juga sangat besar sekali, mulai dari gangguan organ reproduksi, keguguran, kemandulan, kanker leher rahim, hingga cacat pada bayi dan kematian.

PENANGANAN MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
Ruang lingkup masalah kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki menggunakan pendekatan siklus kehidupan. Berdasarkan masalah yang terjadi pada setiap fase kehidupan, maka upaya-upaya penanganan masalah kesehatan reproduksi remaja sebagai berikut :
1. Gizi seimbang.
2. Informasi tentang kesehatan reproduksi.
3. Pencegahan kekerasan, termasuk seksual.
4. Pencegahan terhadap ketergantungan NAPZA.
5. Pernikahan pada usia wajar.
6. Pendidikan dan peningkatan ketrampilan.
7. Peningkatan penghargaan diri.
8. Peningkatan pertahanan terhadap godaan dan ancaman.

Source : Jurnal Majalah Ilmiah Sultan Agung

Jumat, 16 Maret 2012

KB Pria Mewujudkan Kesetaraan Gender


Permasalahan kesetaraan gender bisa kita lihat pada penggunaan KB di Indonesia. Penggunaan KB yang seharusnya diikuti oleh pria dan wanita, masih terjadi kesenjangan. Pada umumnya kesenjangan tersebut bisa kita lihat dari faktor akses, partisipasi, manfaat dan pengambilan keputusan. Saat ini yang sangat terlihat yaitu : Akses pria terhadap informasi dan pelayanan KB masih terbatas, peserta KB laki – laki masih sangat sedikit sekali, masih sangat sedikit pria yang mengetahui manfaat KB bagi diri dan keluarganya, juga masih dominannya suami dalam pengambilan keputusan KB. Hal tersebut seperti menunjukkan bahwa pria seolah terdiskriminasi dalam pelayanan KB.
Pelaksanaan program KB dari jaman dahulu diarahkan untuk mengatasi tingginya angka kematian ibu, sehingga ibu menjadi sasaran pokok program KB. Dari hal tersebut, sampai sekarang ini menjadi timbul anggapan bahwa tanggung jawab ber-KB adalah urusan perempuan. Seringkali pria / suami merasa mampu untuk menghidupi anak banyak, sehingga pria hanya akan menyuruh istrinya yang menggunakan kontrasepsi bila tidak mampu untuk hamil lagi atau merawat bayi. Hal tersebut bisa dilihat dari catatan 2002 bahwa tingkat pemakaian kontrasepsi adalah 60,3 persen. Kontribusi pria terhadap angka itu hanya 1,3 persen yang terdiri dari kondom saja.
Dari segi budaya di Indonesia, masyarakat mengikuti budaya patriarkhi atau mengikuti garis keturunan ayah. Budaya patriarkhi yang melekat di masyarakat menjadikan informasi yang dibawa istri sangat rawan ditolak oleh suami. Padahal perempuan sendiri dianggap kurang mampu meneruskan informasi, Sehingga sampai saat ini penyampaian informasi tentang alat kontrasepsi dan keluarga berencana masih kurang efektif. Akhirnya tingkat pengetahuan pria tentang alat kontrasepsi pun masih kurang. Tingginya dominasi suami dalam pengambilan keputusan perencanaan jumlah dan jarak kelahiran anak juga ikut mempengaruhi rendahnya kesertaan pria dalam ber-KB.
Dari segi agama, dalam hal ini saya membahas dari agama islam, Rasulullah saw sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki keturunan yang sangat banyak. Karena dengan anak banyak, Tuhan pun menjamin kesejahteraan anak-anaknya. Sehingga dengan banyak anak, dikatakan banyak juga rizkinya. Namun tentunya bukan asal banyak, tetapi berkualitas sehingga perlu dididik dengan baik supaya dapat mengisi alam semesta ini dengan manusia yang shalih dan beriman. Karena suami merasa enggan menolak rizki, dan dari ajaran – ajaran agama tersebut, membuat banyak suami enggan ikut ber KB.

Untuk mendukung pencapaian peningkatan kesetaraan gender, meningkatkan kesehatan ibu, serta memerangi HIV/AIDS  serta penyakit menular seksual, dapat dilakukang dengan :
·      Melaksanakan program penyuluhan tentang KB kepada wanita dan pria, agar tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat meningkat. Isi yang disampaikan dalam program penyuluhan tersebut harus memperhatikan prioritas kebutuhan pria dan wanita.
·      Program KB dan kesehatan reproduksi dikembangkan secara responsive gender, yaitu program dan pelaksanaannya mampu memenuhi kebutuhan pria dan wanita secara seimbang.
·      Pelaksanaan program pelayanan KB yang memenuhi kebutuhan pria dan wanita secara seimbang. Pemberi pelayanan KB juga seharusnya peka gender, sehingga mampu melayani kebutuhan KB pria dan wanita, jadi pelayanan tidak hanya dari satu pihak. Pelayanan yang dilakukan harus dengan alat yang memenuhi kebutuhan pria dan wanita, dan lokasi pelayanan diusahakan relatif mudah dijangkau.
Selain dari beberapa program diatas, kesetaraan juga bisa diciptakan dari partisipasi wanita dan pria untuk :
- Melaksanakan peran dan tanggung jawab bersama dalam merencanakan jumlah dan jarak kelahiran.
- Bertanggung jawab secara bersama dalam penanganan kesehatan ibu dan anak.
- Meningkatkan pemahaman tentang KB dan kesehatan reproduksi, sehingga dapat mendorong terjadinya kesetaraan posisi antara pria dan wanita dalam pengambilan keputusan KB.


*Tugas Mata Kuliah Gender dan Kesehatan Reproduksi*

Senin, 05 Desember 2011

Leadership Dalam Pelayanan Kebidanan


A.   Leadership / Kepemimpinan
I. Pengertian Kepemimpinan
Pengertian kepemimpinan yaitu hubungan yang tercipta dari adanya pengaruh yang dimiliki seseorang terhadap orang lain sehingga orang lain tersebut secara sukarela mau dan bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan ( Georgy R. Terry ).
Kepemimpinan akan muncul apabila ada seseorang yang karena sifat - sifat dan perilakunya mempunyai kemampuan untuk mendorong orang lain untuk berpikir, bersikap, dan ataupun berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkannya.
II.    Teori Kepemimpinan
Ada beberapa yang pernah dikemukakan, antara lain :
a.       Teori orang besar atau teori bakat
Teori orang besar ( the great men theory ) atau teori bakat ( Trait theory ) ini adalah teori klasik dari kepemimpinan. Di sini disebutkan bahwa seorang pemimpin dilahirkan, artinya bakat - bakat tertentu yang diperlukan seseorang untuk menjadi pemimpin diperolehnya sejak lahir.
b.      Teori situasi
Bertolak belakang dengan teori bakat ialah teori situasi ( situasional theory ). Teori ini muncul sebagai hasil pengamatan, dimana seseorang sekalipun bukan keturunan pemimpin, ternyata dapat pula menjadi pemimpin yang baik. Hasil pengamatan tersebut menyimpulkan bahwa orang biasa yang jadi pemimpin tersebut adalah karena adanya situasi yang menguntungkan dirinya, sehingga ia memiliki kesempatan untuk muncul sebagai pemimpin.
c.       Teori Ekologi
Sekalipun teori situasi kini banyak dianut, dan karena itu masalah kepemimpinan banyak menjadi bahan studi, namun dalam kehidupan sehari - hari sering ditemukan adanya seorang yang setelah berhasil dibentuk menjadi pemimpin, ternyata tidak memiliki kepemimpinan yang baik. Hasil pengamatan yang seperti ini melahirkan teori ekologi, yang menyebutkan bahwa seseorang memang dapat dibentuk untuk menjadi pemimpin, tetapi untuk menjadi pemimpin yang baik memang ada bakat - bakat tertentu yang terdapat pada diri seseorang yang diperoleh dari alam.
III. Gaya Kepemimpinan
Telah disebutkan bahwa gaya kepemimpinan tersebut dipengaruhi oleh sifat dan perilaku yang dimiliki oleh pemimpin. Karena sifat dan perilaku antara seorang dengan orang lainnya tidak persis sama, maka gaya kepemimpinan ( leadership style ) yang diperlihatkanpun juga tidak sama.
Berbagai gaya kepemimpinan tersebut jika disederhanakan dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
a.       Gaya Kepemimpinan Diktator
Pada gaya kepemimpinan diktator ( dictatorial leadership style ) ini upaya mencapai tujuan dilakukan dengan menimbulkan ketakutanserta ancaman hukuman. Tidak ada hubungan dengan bawahan, karena mereka dianggap hanya sebagai pelaksana dan pekerja saja.
b.      Gaya Kepemimpinan Autokratis
Pada gaya kepemimpinan ini ( autocratic leadership style ) segala keputusan berada di tangan pemimpin. Pendapat atau kritik dari bawahan tidak pernah dibenarkan. Pada dasarnya sifat yang dimiliki sama dengan gaya kepemimpinan dictator tetapi dalam bobot yang agak kurang.
c.       Gaya Kepemimpinan Demokratis
Pada gaya kepemimpinan demokratis ( democratic leadership style ) ditemukan peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan yang dilakukan secara musyawarah. Hubungan dengan bawahan dibangun dengan baik. Segi positif dari gaya kepemimpinan ini mendatangkan keuntungan antara lain: keputusan serta tindakan yang lebih obyektif, tumbuhnya rasa ikut memiliki, serta terbinanya moral yang tinggi. Sedangkan kelemahannya : keputusan serta tindakan kadang - kadang lamban, rasa tanggung jawab kurang, serta keputusan yang dibuat terkadang bukan suatu keputusan yang terbaik.
d.      Gaya Kepemimpinan Santai
Pada gaya kepemimpinan santai ( laissez - faire leadership style ) ini peranan pimpinan hampir tidak terlihat karena segala keputusan diserahkan kepada bawahan, jadi setiap anggota organisasi dapat melakukan kegiatan masing - masing sesuai dengan kehendak masing - masing pula.
IV. Pemimpin yang efektif
Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pemimpin yang dapat mempengaruhi orang lain agar dapat bekerja sama untuk mencapai hasil yang memuaskan bagi terjadinya perubahan yang bermanfaat. Ada beberapa kepemimpinan yang efektif antara lain menurut :
a. Ruth M. Trapper (1989 ), membagi menjadi 6 komponen :
1. Menentukan tujuan yang jelas, cocok, dan bermakna bagi kelompok. Memilih pengetahuan dan ketrampilan kepemimpinan dan dalam bidang profesinya.
2. Memiliki kesadaran diri dan menggunakannya untuk memahami kebutuhan sendiri serta kebutuhan orang lain.
3. Berkomunikasi dengan jelas dan efektif.
4. Mengerahkan energi yang cukup untuk kegiatan kepemimpinan
5. Mengambil tindakan
b. Hellander ( 1974 )
Dikatakan efektif bila pengikutnya melihat pemimpin sebagai seorang yang bersama - sama mengidentifikasi tujuan dan menentukan alternatif kegiatan.
            c.    Bennis ( Lancaster dan Lancaster, 1982 )
Mengidentifikasi empat kemampuan penting bagi seorang pemimpin, yaitu :
1. Mempunyai pengetahuan yang luas dan kompleks tentang sistem manusia ( hubungan antar manusia ).
2. Menerapkan pengetahuan tentang pengembangan dan pembinaan bawahan.
3. Mempunyai kemampuan hubungan antar manusia, terutama dalam mempengaruhi orang lain.
4. Mempunyai sekelompok nilai dan kemampuan yang memungkinkan seseorang mengenal orang lain dengan baik.
d. Gibson ( Lancaster dan Lancaster,1982 )
Seorang pemimpin harus mempertimbangkan :
1.      Kewaspadaan diri ( self awarness )
Kewaspadaan diri berarti menyadari bagaimana seorang pemimpin mempengaruhi orang lain. Kadang seorang pemimpin merasa ia sudah membantu orang lain, tetapi sebenarnya justru telah menghambatnya.
2.      Karakteristik kelompok
Seorang pemimpin harus memahami karakteristik kelompok meliputi : norma, nilai - nilai kemampuannya, pola komunikasi, tujuan, ekspresi dan keakraban kelompok.
3.      Karakteristik individu
Pemahaman tentang karakteristik individu juga sangat penting karena setiap individu unik dan masing - masing mempunyai kontribusi yang berbeda.
V.    Pimpinan dan kepemimpinan
Manajer atau kepemimpinan adalah orang yang bertugas melakukan proses atau fungsi manajemen. Berdasarkan hierarki tugasnya pimpinan dikelompokkan sebagai berikut :
a.       Pimpinan tingkat pertama ( Lower Manager )
Adalah pimpinan yang langsung berhubungan dengan para pekerja yang menjalankan mesin peralatan atau memberikan pelayanan langsung pada konsumen. Pimpinan ini diutamakan memiliki proporsi peranan technical skill yang terbesar dan konseptual skill yang terkecil.
b.      Pimpinan tingkat menengah ( Middle Manager )
Adalah pimpinan yang berada satu tingkat di atas Lower Manager. Pimpinan ini menjadi saluran informasi dan komunikasi timbal balik antara Lower Manager dan Top Manager , yakni pimpinan puncak ( di atas Middle Manager ) sehingga pimpinan ini diutamakan memiliki kemampuan mengadakan hubungan antara keduanya. Konseptual skill adalah ketramp[ilan dalam penyusunan konsep - konsep, identifikasi, dan penggambaran hal - hal yang abstrak. Sedangkan techmnical skill adalah ketrampilan dalam melakukan pekerjaan secara teknik. Hubungan antara manusia merupakan ketrampilan dalam melakukan komunikasi dengan sesama manusia lain.
c.       Pimpinan puncak ( Top Manager )
Pimpinan puncak adalah manajer yang menduduki kewenangan organisasi tertinggi dan sebagai penanggung jawab utama pelaksanaan administrasi. Pimpinan ini memiliki proporsi peranan konseptual skill yang terbesar dan technical skill yang terkecil.
Tugas - tugas pimpinan :
a. Sebagai pengambil keputusan
b. Sebagai pemikul tanggung jawab
c. Mengerahkan sumber daya untuk mencapai tujuan sebagai pemikir konseptual
d. Bekerja dengan atau melalui orang lain
e. Sebagai mediator, politikus, dan diplomat.
VI.  Peranan pemimpin terhadap kelompok:
a.       Sebagai penghubung interpersonal, yaitu merupakan simbul suatu kelompok dalam melakukan tugas secara hukum dan sosial, mempunyai tanggung jawab dan memotivasi, mengatur tenaga dan mengadakan pengembangan serta merupakan penghubung jaringan kerja di luar kelompok.
b. Sebagai inovator atau pembaharu
c. Sebagai pemberi informasi, yaitu memonitor informasi yang ada di lingkungan organisasi, menyebarluaskan informasi dari luar kepada bawahan dan mewakilikelompok sebagai pembicara.
d. Menghimpun kekuatan
e. Merangsang perdebatan masyarakat
f. Membuat kedudukan perawat di media massa
g. Memilih suatu strategi utama yang paling efektif, bertindak di saat yang tepat
h. Mempertahankan kegiatan
i. Memelihara formaf desentralisasi organisasi
j. Mendapatkan dan mengembangkan data penelitian yang terbaik
k. Mempelajari pengalaman
l. Jangan menyerah tanpa mencoba

B. Pelayanan Kebidanan (Midwifery Service)
Pelayanan kebidanan adalah bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar (teregister) yang dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi atau rujukan.
Pelayanan Kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga, sesuai dengan kewenangan dalam rangka tercapainya keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga, dan masyarakat yang meliputi upayapeningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan pelayanan kebidanan dapat dibedakan menjadi :
1)Layanan Primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi anggung jawab bidan.
2)Layanan Kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.
3)Layanan Rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke system layanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang dilakukan oleh bidan dalam menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan yang dilakukan oleh bidan ke tempat/ fasilitas pelayanan kesehatan lain secara horizontal maupun vertical atau meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu serta bayinya.
Pelayanan kebidanan berfokus pada upaya pencegahan, promosi kesehatan, pertolongan persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, melaksanakan tindakan asuhan sesuai dengan kewenangan atau bantuan lain jika diperlukan, serta melaksanakan tindakan kegawat daruratan.
Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.

A.   Kepemimpinan Dalam Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan merupakan salah satu kegiatan dalam pembangunan kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan, hidup sehat dan mengambil bagian dalam pelayanan kesehatan masyarakat, turut membantu menghasilkan generasi bangsa yang cerdas. Pelayanan yang demikian karena pelayanan kebidanan ditujukan kepada perempuan sejak masa sebelum konsepsi, masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan balita. Tentu saja pelayanan kebidanan yang berkualitas akan member hasil yang berkualitas, yaitu kepuasan pelanggan maupun provider dan pelayanan yang bermutu. Untuk pelayanan yang berkualitas tersebut diperlukan seorang pemimpin yang dapat meningkatkan terus mutu pelayanan kebidanan yang diberikan oleh organisasinya dan pelayanan yang diberikan harus berorientasi pada mutu.
Tugas pokok kepemimpinan :
1.   Menyatupadukan orang yang berbeda motivasinya dengan motivasi yang sama.
2.   Mengusahakan satu kelompok dinamis secara sadar.
3.   Menciptakan lingkungan kerja baik dan penuh integritas
4.   Memberi inspirasi dan mendorong anggotanya untuk bekerja seefektif mungkin.
5.   Menumbuhkan kesadaran lingkungan yang senantiasa mengalami perubahan (dinamis).
Ada beberapa pendekatan kepemimpinan :
1.      Pendekatan sifat
a.       Sifat fisik (penampilan fisik)
b.      Sifat intelegensi (berfikir konseptual)
c.       Kepribadian (toleransi untuk berbuat baik)
d.      Hubungan dengan tugas (hasil, dorongan dan inisiatif)
e.       Sifat social (kerjasama, interaksi, administrative)
2.      Pendekatan wewenang
a.       Pemimpin yang autokratik, biasnya pemimpin kurang suka menerima kritik dan saran. Sehingga cenderung suka memerintah
b.      Pemimpin yang tidak peduli (laissez faire), kurang berorientasi pada anggota, oriantasi masih terhadap diri sendiri.
c.       Pemimpin yang demokratis, pemimpin ini biasanya memperhatikan bawahan, member kesempatan kepada bawahan untuk berkembang, mendorong bawahan, dan menciptakan komunikasi yang harmonis. Ada beberapa jenis kepemimpinan yang berkembang dari pemimpin yang demokratis ini :
·         Pemimpin yang berorientasi pada bawahan (empoye centered)
·         Pemimpin yang suka berkonsultasi pada bawahan (consultative leader)
·         Pemimpin yang suka memberi kesempatan kepada bawahan untuk maju (permissive leader)
·         Pemimpin yang suka pada persamaan dengan bawahan (equalitarian leader)
Dalam pelayana kebidanan banyak harapan yang difokuskan oleh orang yang berbeda dan bekerja sama dalam pelayanan kebidanan dan kepada bidan itu sendiri. Para pelanggan internal dan eksternal menginginkan bidan dapat member pelayanan yang berkualitas. Selain keterampilan dan pengetahuan diperlukan kematangan pribadi bidan dalam member pelayanan karena bidan juga menjadi tokoh masyarakat dan panutan bagi kaum wanita. Bidan harus menjalankan tugas dengan tanggung jawab moral karena pelayanan yang diberikan menyangkut kehidupan ibu dan anak, pencapaian kesejahteraan ibu, anak, dan keluarga, serta menurunkan angka kematian ibu dan anak. Untuk itu bidan perlu memperhatikan poin – poin berikut ini untuk mengembangkan kematangan dirinya :
1.      Teliti
2.      Bertanggu jawab
3.      Jujur
4.      Disiplin tinggi
5.      Hubungan manusia yang efektif
6.      Bertakwa kepada  Tuhan Yang Maha Esa
7.      Memahami standar profesi kebidanan
8.      Mengerti asas dan tujuan penyelenggaraan praktek kebidanan
9.      Bekerja berdasarkan ketentuan dan landasan hukum pelayanan kebidanan
Bidan adalah profesi yang benar-benar harus dijiwai karena sangat menuntut tanggung jawab. Bidan juga nantinya akan menjadi pemimpin di tengah masyarakat. Bidan adalah orang yang berperan penting dalam terciptanya ibu dan anak yang sehat dan keluarga bahagia serta generasi bangsa yang sehat. Oleh karena itu dalam menjalankan tugasnya, bidan harus mempunyai prinsip sebagai berikut.
1.   Cintai yang anda lakukan, lakukan yang anda cintai (love your do, do your love). Profesi bidan harus dihayati. Banyak orang yang memilih bidan karena dorongan orangtua, dengan harapan cepat bekerja dengan masa pendidikan yang singkat dan dapat membuka praktek mandiri. Oleh karena itu terlepas dari apapun motivasi seseorang menjadi bidan, setiap bidan harus mencintai pekerjaannya.
2.   Jangan membuat kesalahan (don’t make mistake). Dalam member asuhan, usahakan tidak ada kesalahan. Bidan harus bertindak sesuai dengan standar profesinya. Untuk itu bidan harus terus menerus belajar dan meningkatkan keterampilan. Kesalahan yang dilakukan memberi dampak sangat fatal. Jangan pernah berhenti mengasah keterampilan yang telah dimiliki saat ini, terus meningkatkan diri, dan mau belajar kaena ilmu selalu berubah. Keinginan untuk terus belajar dan kemauan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan akan sangat membantu kita menghindari kesalahan.
3.   Orientasi kepada pelanggan (customer oriented). Apapun yang dilakukan harus tetap berfokus pada pelanggan. Siapa yang anda beri pelayanan, bagaimana karakter pelanggan anda, bagaimana pelayanan yang anda berikan dapat mereka terima dan dapat member kepuasan sehinga anda tetap dapat member pelayanan yang sesuai engan harapan dan keinginan pelanggan.
4.   Tingkatkan mutu pelayanan (improved your service quality). Bidan harus terus menerus meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada kliennya. Dalam member pelayanan, jangan pernah merasa puas. Oleh karena itu, bidan harus terus menerus meningkatkan diri, mengembangkan kemampuan kognitif dengan mengikuti pelatihan, mempelajari dan menguasai perkembangan ilmu yang ada saat ini, mau berubah ke arah yang lebih baik, tentu saja juga mau menerima perubahan pelayanan di bidang kebidanan yang telah dibuktikanlebih bermanfaat secara ilmiah. Bidan yang terus berpraktek, keterampilannya akan terus bertambah dalam member asuhan dan melakukan pertolongan persalinan, KB, maupun dalam hal member pelayanan kebidanan lainnya. Dengan demikian diharapkan kualitas personal bidan meningkat sehingga akan meningkatkan mutu pelayanan yag diberikannya.
5.   Lakikan yang terbaik (do the best). Jangan pernah memandang klien/pelanggan sebagai individu yang ‘tidak penting’ atau mengklasifikasikan pelayanan yang anda berikan kepada pelanggan dengan memandang status ekonomi, kondisi fisik, dan lain-lain. Ingat! Klien berhak memdapatkan pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi. Bidan harus member pelayanan, pemikiran, konseling, tenaga, dan juga fasilitas yang terbaik bagi kliennya.
6.   Bekerja dengan takut akan tuhan (work with reverence for the Lord). Sebagai bangsa indonesia yang hidup majemuk dan beragama, bidan harus menghormati setiap kliennya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Bidan  juga harus percaya segala yang dilakukan dipertanggungjawabkan kepada Sang pencipta. Oleh karena itu, bidan harus memperhatikan kaidah/norma yang berlaku di masyarakat, menjunjung tinggi moral dan etika, taat dan sadar hukum, menghargai pelanggan dan teman sejawat, bekerja sesuai dengan standar profesi.
7.   Berterima kasih kepada setiap masalah (say thanks to the problem). Bidan dalam menjalankan tugas, baik secara individual (mandiri) sebagai manajer maupun dalam kelompok (rumah sakit, puskesmas, di desa) tentu saja menghadapi dan melihat banyak masalah pada proses pelaksanaan pelayanan kebidanan. Setiap masalah yang dihadapi akan menjadi pengalaman dan guru yang paling berharga. Bidan dapat juga belajar dari pengalaman bidan lainnya dan masalah yang mereka hadapi sertabagaimana mereka mengatasinya. Setiap masalah, baik masalah  manajemen maupun asuhan yang diberikan, membuat kita dapat belajar lebih baik lagi di waktu yang akan datang. Selain itu masalah juga membuat seseorang mencapai kedewasaan dan kematangan. Oleh karena itu, jangan pernah menyalahkan situasi dan masalah yang ada, justru kita bisa belajar dari setiap situasi dan mencari strategi pemecahannya, yang terpenting adalah mengevaluasi segala yang kita lakukan dan belajar dari kesukaran, masalah, dan kesalahan yang kita alami serta berusaha menghindari kesalahan yang sama.
8.   Perubahan perilaku (behavior change). Mengubah  perilaku sangat sulit dilakukan. H. L. Blum mengatakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan yaitu tenaga kesehatan, lingkungan, keturunan, dan perilaku. Hal yang paling sulit dilakukan adalah perubahan perilaku. Akan tetapi, jika bidan sebagai tenaga kesehatan yang mengemban tanggung jawab moral selalu meningkatkan diri, menerima perubahan yang positif dan baik untuk pelayanan kebidanan, meninggalkan praktik yang tidak lagi didukung secara ilmiah, dan mengarahkan diri selalu pada pencapaian kualitas pelayanan, berorientasi pada tugas dan pelanggan, turut serta ambil bagian dalam peningkatan kualitas pelayanan kebidanan, mau memberi dan menerima saran/kritik dari teman sejawat dan organisasi profesi untuk memperbaiki diri, menyadari batas-batas wewenang dan tanggung jawabnya sebagai bidan, diharapkan angka kematian ibu dan anak dapat diturunkan. Bidan juga harus terus melibatkan dirinya dalam perbaikan mutu pelayanan  sehingga bidan selalu berada dalam lingkaran mutu dan memberi pengaruh bagi perbaikan kualitas pelayanan kebidanan masa depan
9.   Kepemimpinan dalam kebidanan sacara garis besar memfokuskan diri pada sifat, perilaku, etika dan hukum, tanggung jawab, keterampilan serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut pengalaman bidan yang berhasil mengelola praktik kebidanannya dari organisasi sederhana berkembang menjadi organisasi yang besar atau  rumah sakit, dapat disimpulkan mereka berhasil menjadi manager yang mampu meningkatkan pelayanannya. Mereka mengembangkan organisasinya dengan dasar ketekunan, keuletan, kerja keras, dan mau berubah ke arah yang lebih baik serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, mereka mampu merebut pasar  serta memenuhi kebutuhan pelanggan. Organisasi yang dikembangkan harus tetap difokuskan pada  peningkatan kualitas yang terus-menerus, memperhatikan kepuasan pelanggan eksternal dan internal, serta menerapkan manajemen mutu terpadu.
Ketrampilan Bidan sebagai leader
1.      Mengenali keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan dan menolak setiap tugas atau tanggung jawab diluar wewenang dan tanggung jawab bidan.
2.      Menerima tanggung jawab kepemimpinan dalam praktik kebidanan
3.      Menggunakan kemampuan untuk berfikir secara proaktif, perspektif luas dan kritikal dalam konteks penyelesaian masalah